Tempe

angan heran kalau kajian tempe di Jepang jauh lebih maju dibandingkan di Indonesia. Peneliti senior jepang alm Prof. Kiku Murata adalah yg pertama kali melakukan penelitian tempe pada tahun 1960 an  barulah para peneliti Indonesia yg belajar di Amerika melakukan penelitian tempe. Orang Jepang sangat menghargai makanan yg sehat apalagi berbasis kedelai, maka pembentukan organisasi yg bergerak di bidang tempe sdh mereka bentuk th 1985 (Japan tempe Society, kmdiaan berubah menjadi Japan Tempe Association)

anggotanya bukan hanya pengusaha tetapi juga para peneliti dan mereka melakukan seminar setahun dua kali. Permasalahan tentang jamur tempe dr mana asalnya yg sdh dipertanyakan oleh Widagdo pada thu 1930 an ternyata tdk menarik perhatian peneliti Indonesia, akhirnya ditemukan oleh peneliti Jepang tahun 2002 (kalau tdk keliru) bahwa dalam daun waru terdapat jamur Rhizopus sp. Terjadinya tempe mungkin krn kedelai yg direbus dibungkus dg daun waru yg mengandung Rhizopus sp. Penemuan secara tdk sengaja oleh nenek moyang.
Industri tempe di Jepang sebelum th 1990 cukup besar kmdian menyusut dan sekarang mulai berkembang lagi. Tempe tdk hanya dibuat dr kedelai tetapi juga Hatomugi dan juga dari ampas tahu (okara tempe).
Jepang mematenkan tempe berdasarkan penemuan mereka yg sedikit berbeda dg pembuatan tempe di Indonesia. Bahkan resep-resep tempe dikembangkan dan disesuaikan dengan makanan mereka, th 1996 Sanyo TV hampir setiap minggu sekali menyiarkan tentang bgmn memasak tempe krn bagi sebagian besar masyaraat Jepang tempe bukan produk asli mereka shg perlu sosialisasi cara memasaknya, cara menyimpannya.
Transfer of knowledge memang mudah terjadi dimana-mana dan tentunya budaya dimana  awal atau asalnya  produk tersebut dikembangkan , diakui oleh masyarakat lain yg mengembangkan, apalagi kalau produk budaya tsb sdh diketahui dunia. Contoh tempe semua mengakui bahwa tempe berasal dr Indon esia, Natto berasal dr Jepang, Nata de coco berasal dr Filipina dst. Pd seminar internasional di Bangkok telah ditetapkan bahwa penggunaan /penamaan produk berbasis kedelai sesuai dengan nama di negara asalnya sehingga bahasa Inggris untuk tempe tetap tempe bukan tempeh. Hal tsb merupakan pengakuan dunia bahwa tempe berasal dr Indonesia. Saya sdh menulis sejarah tempe (versi kajian saya di bbrp pustaka kuno ). Bahwa produk makanan kita perlu dipublikasikan terutama sejarahnya saya sangat mendukung sekali, meskipun teramat sulit untuk melacaknya bhb sejak jaman nenek moyang informasi lebih banyak disampaikan secara lesan dp lewat tulisan. Berbeda dengan Jepang dan Cina dimana mereka biasa mencatat apa yg dilihat dan di dengar. Hal tsb juga saya ketahui pada saat saya akan menulis tentang gula kelapa ternyata literatur Cina sdh ada yg menulis bagaimana orang Jawa membuat gula kelapa pada abad 7. Pelestarian produk budaya termasuk pangan perlu melibatkan teman-teman di bidang b udaya seperti arkeolog dan bidang sosial lainnya krn banyak informasi yg tertuang dlm prasasti dalam bahasa lokal termasuk di Bali dan tempat lain.
OK sementara itu dulu urun rembugnya.
Salam,
Mary Astuti

Terima kasih Ibu Prof. Mary, penjelasan Ibu lebih lengkap.
Mitake san dkk yang belajar membuat tempe kepada Prof. Soetrisno di Malang, bukanlah scientist, hanya mewakili masyarakat Okinawa yang ingin membudayakan kembali kebudayaannya yang punah setelah pendudukan kekaisaran Jepang dan perang dunia II dgn terbunuhnya sebag besar masy Okinawa. Tempe dan pembuatan larunya dari daun waru dianggap sbg bagian budayanya yg punah tsb. Okinawa, satu-satunya daerah tropis Jepang.

Professor pembimbing saya sendiri yang asli Okinawa pun juga sedang membudayakan Tofuyo (tahu fermentasi seperti keju kedelai) yang dianggap hilang juga, Prof tsb yang menemukan kembali cara produksinya sejak 1971, kemudian bersama masynya mendirikan pabrik Tofuyo. Saat ini Prof sudah pensiun.

Salam,
Hanifah Lioe

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>