Nasihat Al Ghazali untuk Menghadapi Dunia

Kultum Tarawih Ust Moh Nur Ihsan
Kamis, 10/9/09
Kitab “Ihya’ Ulumuddin” adalah sebuah kitab karya Imam Al Ghazali (1088-1111) yang monumental. Walaupun ditulis sekitar 1000 tahun kitab ini masih tetap selalu dibaca oleh semua orang. Kalau toh ada kelemahan adalah wajar, misalnya hadits-hadits yang digunakannya ada yang dhaif, ada pula pernyataannya yang keliru. Semuanya wajar, karena kitab itu karya manusia, apalagi ditulis 1000 tahun yang lalu. Karya manusia modern yang dihasilkan sepuluh tahun lalu pun mungkin saja keliru, terbantahkan oleh hasil-hasil penelitian/kajian terbaru. Sangat wajar. Namun demikian, isi kitab Ihya’ ‘Ulumiddin memang luar biasa, masih banyak hal-hal yang benar, yang bisa kita ambil sebagai menjadi pelajaran. Di antaranya adalah ajaran tentang persoalan kehidupan, sebagimana jawaban Al Ghazali atas pertanyaan murid-muridnya.
Enam pertanyaan
Suatu hari Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu ia mengajukan enam pertanyaan.

Pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab: orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Sang imam menjelaskan semua jawaban itu benar, tapi yang paling dekat dengan diiri kita adalah “mati”, karena kematian adalah janji Allah swt. “Kullu nafsin daa iqotul maut (Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati) …” (QS Ali ‘Imran 3:185). Oleh karena itu Rasul selalu menganjurkan kita agar sering-sering mengunjungi makam, yaitu supaya kita selalu mengingat kematian…

Kedua, Imam Ghazali menanyakan, “Apa yang paling jaiuh dari diri kita di dunia ini?” Dijawab oleh muridnya, negeri Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang… Semua itu benar, kata Imam Al Ghazali, tapi jawaban yang paling benar adalah “masa lalu”. Masa lalu tidak akan terulang lagi. Bagimanapun kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh karena itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan aturan Allah dan RasulNya.
Imam Ghazali meneruskan dengan pertanyaan

ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?” Murid-muridnya ada yang menjawab: gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar, kata Al Ghazali, tapi yang paling besar adalah “nafsu”. Karena kalu kita memperturutkan hawa nafsu, segala cara dihalalkan untuk mewujudkan keinginan kita, sebagaimana Surat Al A’raf ayat 179 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Pertanyaan

keempat, “Apa yang paling berat di dunia ini?” Di antara murid ada yang menjawab baja, besi, dan gajah… Semua jawaban itu benar, kata Al Ghazali, tapi yang paling benar adalah “memegang amanah”. Ingatlah ketika Allah hendak memberikan amanah yang ternyata ditolak oleh langit, bumi dan gunung-gunung, karena beratnya amanah. Al Ahzab (QS 33:72) “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh…”

Kelima, Imam Ghazali bertanya: “Apa yang paling ringan di dunia ini?”. Dijawab oleh murid-muridnya: kapas, angin, debu, dan daun-daunan… Semua itu benar, kata Al Ghazali, tapi yang paling ringan adalah “meninggalkan shalat”. Padahal kita tahu, banyak keringanan-keringanan yang diberikan Allah khusus untuk perintah shalat ini. Kalau tidak bisa berdiri, lakukanlah dengan duduk. Kalau tidak bisa, lakukan dengan berbaring dst. Bahkan untuk orang bepergian, ada pula keringanan seperti menjamak dan qashar…
Dan pertanyaan terakhir,

keenam, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?”. Murid-muridnya serentak menjawab : “pedang…”. “Benar”, kata Al Ghazali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia”. Karena melalui lidah manusia sangat mudah menyakiti hati danmelukai perasaan saudaranya seniri. Kita tahu pepatah Jawa yang mengatakan “Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining jiwa dumunung ana ing busana.
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan kematian, senantiasa belajar dari masa lalu, dan tidak memperturutkan nafsu? Sudahkah kita mamou mengemban amanah sekecil apapun, senantiasa menjaga shalat, dan selalu menjaga lisan kita?
Wallahua’lam.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>