Halal Bi Halal

Assalamualaikum wr wb

Segala puja dan puji selalu kita panjatkan kehadirat Allah SWT

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan pada Junjungan kita Nabi Muahmmad SAW.

Halal bi Halal sudah menjadi tradisi di Negara kita, sehingga seakan tanpa mengadakan halal bi halal rasanya tidak afdhol. Pelaksanaan halal bi halal sendiri kadang justru menjadikan banyak kesalahan yang kita lakukan sehingga justru menodai amal ibadah kita.

Kita baru saja selesai melaksanakan ibadah Puasa Ramadhan dan zakat yang merupakan bagian dari Rukun Islam. Di akhir Ramadhan kita melakukan shalat idhul fitri. Dan masuk bulan Syawal. Para ulama mengatakan bulan Syawal adalah bulan peningkatan. Lalu apa yang kita tingkatkan?

Saat datang Ramadhan kita ucapkan Marhaban Ya Ramadhan, kita sambut kedatangan Ramadhan dengan rajin shalat sunnah (tarawih) sehingga masjid jadi penuh. Puasa pun kita sambut dengan antusias, meskipun saat buka lebih antusias dibandingkan puasa itu sendiri (buktinya menu buka umumnya sangat mempesona).

Saat idhul Fitri kita bersukacita mengenakan baju baru, wajah ceria datang ke lapangan atau masjid. Lalu diikuti saling berjabat tangan untuk saling memaafkan. Pertanyaan yang kemudian muncul, jika Syawal adalah bulan peningkatan, apa yang kita tingkatkan mulai dari Syawal dan seterusnya? Jika kita akan meningkatkan, dimana titik awalnya?

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT Mestinya Ramadhan adalah landasan kita berpijak, agar kita tidak selalu terpesona, bahwa Syawal berarti saling maaf memaafkan dan saling berjabat tangan dengan yang bukan muhrimnya.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai landasan untuk peningkatan agar kewajiban Puasa Ramadhan memang menjadikan kita bertaqwa. Seorang haji adalah seorang yang berani mengatakan Labaik Allohuma labaik ………… “aku penuhi panggilanMu ya Allah…………………..’ Maka kita juga harus berani memenuhi panggilan untuk menjadi taqwa.

Saat Ramadhan kita puasa wajib, mestinya kita malu jika di bulan setelahnya tak juga melakukan puasa sunnah. Jika belum marilah kita mulai. Mulai dari yang paling ringan, ada puasa putih yaitu tanggal 13, 14, dan 15 tiap bulan. Jika merasa lebih mampu puasa senin kamis atau puasa Daud, mananpun yang kita lakukan marilah kita landasi untulk menunjukkan rasa cinta kita pada Allah, jadi tak perlu orang lain tahu ataupun kita perlihatkan. Bagi yang punya hutang puasa segeralah kita bayar jangan ditunda karena kita tak tahu apakah dapat membayarnya atau tidak karena kita tidak tahu apa yang terjadi pada diri kita.

Saat Ramadhan kita rajin ke masjid berjamaah, masihkan itu kita lakukan? Kalao kita bilang peningkatan maka mestinya masjid jangan kita kosongkan. Kita tetap ke masjid untuk berjamaah shalat fardhu. Jika di saat Ramadhan kita selalu berjamaan subuh dan Isya mestinya setelah itu kita tambahi dengan shalat yang lain. Saat Ramdhan kita selalu tarawih, apa yang kita lakukan saat Syawal dst? Mestinya shalat malam kita tegakkan (shalat sunah yang paling afdal setelah shalat wajib adalah shalat malam). Jika shalat malam kadang tidak terlaksana, setidaknya kita ganti dengan shalat dhuha. Marilah kita coba mulai dari manapun yang kita anggap paling ringan. Sesuatu yang berat akan teras ringan jika biasa, dan sesuatu yang ringan akan terasa berat jika tak pernah kita coba.

Di Bulan Syawal sebenarnya tidak ada ajaran Rasulullah SAW untuk saling maaf memaafkan. Setelah shalat Ied Rasulullah SAW mendatangi para ahwat dan menyampaikan dakwah. Lalu pulangnya melalui jalan yang berbeda yang dimaksudkan untuk syiar.

Pernahkan kita membayangkan diri kita berdakwah? Padahal kita dianjurkan untuk berdakwah walau dengan satu ayat. Kita yang bukan Ustadz juga tetap perlu berdakwah dengan cara2 yang sederhana, misal dengan tingkah laku kita, dengan perkatan kita. Bagi yang rajin facebook atau blog dan internet, manfaatkan dengan menukil ayat2 Al Qur’an atau hadits sebagai cara kita berdakwah tanpa takut salah.

Kelompok pengajian inipun dapat untuk saling berdakwah, misalnya kita setiap kali pertemuan mengadakan tukar menukar buku agama. Apapun yang kita punya, dapat buku, majalah atau fotokopian, kita bungkus seperti kado lalu kita bagi saat mau pulang dengan tidak mengambil milik sendiri tentunya. Ini juga termasuk dakwah (dakwah dengan tulisan). Banyak orang tersentuh hatinya ketika tanpa sengaja membaca buku yang dibei orang lain.

Saudaraku yang dirahmati Allah SWT Marilah kita meningkatkan amalan yang kita laksanakan saat Ramdhan dengan amalan-amalan yang diajarkan Rasulullah SAW, bukan amalan yang kita munculkan sendiri. Marilah kita saling memafkan bukan karena Lebaran tapi setiap kali pertemuan. Berjabat tangan akan menghapus dosa kedua orang tersebut, namun dosa yang disengaja tetap harus meminta maaf secara khusus (yaitu menyebutkan permintaan maaf atas kesalahannya).

Akhirul kata marilah kita selalau melaksanakan ajaran Islam dengan benar. Marilah kita mulai mempelajari bahwa semua yang kita lakukan memang ada landasan ajaran yang syar’i. Semoga semua amal ibadah kita diterima Allah SWT.

Amiin ya robbal alamin

Nur Hidayat

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>