Menggarap Kembali Potensi Lerak

sumber suara Merdeka.

Anak-anak zaman sekarang mungkin sudah jarang, atau bahkan melihat, buah dan tanaman lerak (Sapindus rarak). Salah satu sebabnya adalah munculnya produk-produk modern yang menjadi kompetitor, mulai dari sabun pencuci, cabun wajah, obat pembasmi serangga, dan sebagainya. Aneka manfaat lerak telah digerogoti produk modern, padahal lerak jelas lebih ramah lingkungan, bahkan berpotensi menyelamatkan bumi dari pemanasan global (global warming).

JANGANKAN melihat sosok tanaman yang makin langka, melihat buah lerak pun jarang dialami generasi muda sekarang. Ya, tanaman dan buah lerak benar-benar menjadi keunggulan yang terlupakan di negerinya sendiri.

Dulu, kita sering melihat ibu mencuci pakaian dengan menggunakan lerak. Bapak membersihkan keris, kerajinan dari kuningan, atau perhiasan dari emas, dengan menggunakan buah lerak.

Mbakyu, bulik, dan ibu pun acapkali membersihkan wajahnya dengan larutan buah lerak. Tak ada lagi keluarga yang mengusir nyamuk dan kecoa dengan lerak. Sebegitu hebat manfaat lerak, namun sebegitu mudah pula kita melupakannya.

Memang, lerak masih digunakan beberapa perajin batik di Pekalongan, Solo, maupun Purwokerto. Tetapi sebagian besar penggemar batik lebih memercayakan pencucian kain khas itu ke laundry yang memiliki fasilitas dry cleaning; tak mau lagi melirik ke buah lerak! Belakangan, dalam milis Forum Agromania yang saya ikuti, muncul beberapa email dari para pemerhati agrobisnis yang ingin membeli dan menjual buah lerak! Wow, ini merupakan gejala yang baik, setidaknya ada kesadaran dari warga Indonesia untuk kembali menggarap potensi lerak yang terlupakan.

Setelah ditelusuri, sebagian dari anggota milis ini sudah mulai membuat produk-produk berbahan lerak, mulai dari sabun wajah, sabun cuci pakaian (nondeterjen), obat nyamuk, shampoo pencuci batik, dan lain-lain. Sebagian produk ini dijual melalui online store, tetapi banyak pula yang tersebar di sejumlah toko, minimarket, dan supermarket. Bahkan di Yogyakarta ada beberapa supermarket yang menjual buah lerak yang telah dikeringkan. Salah satunya adalah Mirota Batik di Jl C Simanjuntak Yogyakarta. Begitu pula dengan Solo dan Pekalongan, dua sentra batik di Jawa Tengah, bahkan di Indonesia. Beberapa daerah penghasil lerak terbesar di Indonesia adalah Kediri, Banten, dan Madura. Setiap bulan Kediri mampu mengirim tiga ton (hasil produksi hutan-hutan setempat) ke berbagai industri. Kediri bahkan sanggup memasok enam ton lagi setiap bulan!

Buatan Sendiri Sebenarnya kita juga bisa memanfaatkan lerak untuk keperluan (keluarga) sendiri. Misalnya, untuk mencuci pakaian batik. Keringkan buah lerak, kemudian ditumbuk halus dan dicampur air hangat. Larutan ini dapat digunakan untuk merendam batik selama semalam. Pencucian kain batik dengan ekstrak buah lerak terbukti mampu mempertahankan kualitas kain seperti saat dibuat.

Lerak juga bisa digunakan untuk mencuci pakaian biasa, bahkan membuat pakaian lebih awet karena tidak mengandung bahan-bahan deterjen. Masukkan 3-5 buah lerak ke dalam empat gelas air panas, lalu diremas-remas sampai muncul saponin atau buih-buih alami. Campurkan cairan saponin itu ke tempat cucian yang sudah diisi air. Saponin ini bekerja sebagai surfaktan, yang membuat air cucian ’’lebih basah’’. Akibatnya, saponin mudah masuk ke dalam serat-serat kain yang dicuci, mengikat kotoran yang melekat, dan melepas kotoran tadi dari kain cucian.

Lerak juga bisa digunakan dalam mesin cuci. Caranya, masukkan 3-5 buah lerak ke kantong kain yang tersedia, lalu dimasukkan ke dalam mesin cuci. Hindari penggunaan deterjen, bahan pengharum (fragrance), maupun pelembut (softener). Atur suhu air pada keadaan dingin/sedang dengan putaran normal, lalu mulailah mencuci. Agar bekerja efektif dan optimal, usahakan lerak dapat bersirkulasi secara bebas dan tidak terjebak dalam lipatan kain berukuran besar (misalnya seprai).

Untuk mengharumkan pakaian, Anda dapat menambahkan beberapa tetes essential oil yang disukai. Jika menggunakan mesin cuci, buah lerak dapat digunakan untuk tiga kali pemakaian. Untuk membersihkan peranti dapur, hancurkan lima buah lerak menggunakan palu atau diiris-iris dengan pisau. Lerak yang hancur ini diseduh dengan 300 ml air panas. Biarkan hingga dingin, kemudian disaring. Larutan yang tersaring merupakan konsentrat saponin dari lerak, dan dapat digunakan untuk membersihkan berbagai peranti dapur, lantai, keris, dan barang kerajinan lainnya.

Biopestisida Saponin termasuk dalam bioinsektisida (pembasmi nyamuk alami) dan biopestisida (pembasmi hama). Untuk membasmi nyamuk, termasuk Aedes aegepti, bahan yang diperlukan hanya buah/biji lerak serta etanol 90 %. Buah dan biji dikeringkan, kemudian ditumbuk halus hingga menjadi serbuk. Larutkan 10 gram serbuk lerak ke dalam 100 ml etanol 90%. Jika Anda mau membuat 1 liter, berarti takaran serbuk 100 gram (1 ons). Cairan hasil ekstraksi ini dapat dipakai untuk mengendalikan jentik nyamuk, mematikan nyamuk dewasa, dan bersifat sebagai repelen yang dapat mencegah kehadiran nyamuk. Untuk mencegah demam berdarah, cukup dicampurkan ke dalam bak.

Kalau mau digunakan untuk mencegah dan mengusir nyamuk, tuangkan larutan ke dalam sprayer yang banya dijual di pasaran. Hendarsih Suharto, peneliti hama dan penyakit dari Balai Besar Penelitian Padi (BBP Padi), pun sukses membaski keong mas (hama padi) dengan menggunakan saponin dari berbagai tanaman, antara lain lerak. Keong mas gemar memakan tanaman lunak, termasuk padi muda.

Menurut Hendarsih, penggunaan pestisida yang terbuat dari rerak cukup disebarkan di titik-titik persawahan yang jelas ada hamanya. ’’Lerak sangat efektif membasmi keong mas, tetapi juga mematikan siput lokal dan ikan mas. Jadi, aplikasinya di sawah sangat ramah lingkungan, sehingga dapat dipakai untuk daerah mina padi,’’ ujarnya. Betapa besar manfaat buah lerak untuk kepentingan manusia. Ah, sayangnya, betapa mudah kita melupakannya.

(Dudung Abdul Muslim-32)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>