Hilal, kapan dapat dilihat?

Sebelumnya saya mohon maaf, semoga kita semua dapat mengawali puasa Ramadhan
dengan kusyu’.

Masalah penanggalan sebetulnya memang sesuatu yang mudah untuk ditentukan
diawal /jauh-jauh hari sebelum hari aktualnya tiba. Penentuan tanggal
berdasarkan hisab dan rukyat mestinya menghasilkan tanggal yang sama. Kalau
saya amati terjadinya perbedaan justru yang diamati (dirukyat) dan dihisab
obyeknya berbeda. Pengamat rukyat mencoba mengamati HILAL (Inggris:
CRESCENT) sedangkan ahli hisab menghitung tanggal berdasarkan kemunculan
BULAN (Inggris: MOON). HILAL bisa terjadi karena ada iluminasi cahaya
matahari terhadap bulan. Bulan berada diatas ufuk belum tentu menunjukan
iluminasi cahaya matahari yang bisa teramati dari belahan bumi.

ILUMINASI hanya bisa tampak jika sudut pandang pengamat tepat atau berada
diatas ambang SUDUT KRITIS antara sudut datang (cahaya matahari yg sampai ke
BULAN) dan sudut pantul (cahaya ILUMINASI yang sampai ke bumi). Secara
ASTRONOMI sudut kritis MATAHARI-BULAN-BUMI besarnya antara 2,6 – 6,7 derajat
(tergantung pada POSISI LINTANG pengamat). 2,6 derajat untuk daerah amat
disekitar katulistiwa, sedangkan 6,7 untuk daerah lintang dekat kutub yang
berseberangan dengan posisi bulan. Tahun ini BULAN ada dibelahan bumi
selatan sehingga kalau ada pengamat yang menyatakan melihat HILAL di daerah
lintang utara jelas MUSTAHIL secara astronomi.

Tanggal 10 agustus jam 17.32 WIB saat matahari ada dibatas ufuk (sunset),
BULAN memang sudah ada diatas ufuk dengan sudut pandang maksimum 2,3 derajat
dengan posisi azimut 281″01′, yang berarti berada dibawah sudut kritis
astronomi, jadi HILAL tidak bisa terlihat secara empirik.

Meski ada 4 tempat di Indonesia (Cilincing, probolinggo, gresik, dan
Bengkulu) bersaksi melihat HILAL, kesaksian itu sangat meragukan. Misalnya
di Gili-Probolinggo melaporkan melihat HILAL sekitar pukul 17.32 WIB dan di
Bukit Condro pukul 17.36
(http://tech.groups.yahoo.com/group/rukyatulhilal/message/2029), padahal
saat itu matahari sedang ada dibatas ufuk. HILAL itu iluminasi dan hanya
akan terlihat bila LANGIT SUDAH GELAP, sementara kesaksian ini dinyatakan
pada saat langit masih sangat cerah dengan iluminasi matahari. matahari
belum “Set” sempurna. Seandainya cahaya hilal ada, pasti kalah kuat dengan
cahaya MATAHARI. Kalaupun pakai alat ini juga tidak mungkin. Hal ini pernah
saya diskusikan dengan 2 pakar astronomi di Observatorium Perth-Australia,
pengamatan dibawah sudut kritis sangat berbahaya dan tidak mungkin
dilakukan. Setiap teleskop pasti melakukan penguatan cahaya, paling kecil
1000x penguatan. Tanpa alat saja kita tidak mungkin menatap cahaya
matahari, sedangkan ini diperkuat sampai ribuan kali.

Pengamat di Cilincing menyatakan melihat HILAL pukul 17.56 WIB. Pernyataan
ini juga jelas kurang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. “Moon-set”
di daerah tersebut pada pukul 17.41, sehingga kesaksian di Gresik ini pasti
bukan melihat HILALNYA BULAN, mungkin HILALnya PLANET LAIN (Yupiter atau
Saturnus), karena pada pukul 17.56 bulan sudah ada dibawah ufuk. BULANnya
saja sudah tidak ada apalagi HILALnya, jadi HILAL tak mungkin teramati dari
permukaan bumi.

Sementara itu negara-negara tetangga terdekat (Brunei, Malaysia, Australia)
dan negara-negara lain (http://moonsighting.com/1431rmd.html), tidak ada
satupun pengamat profesional yang dapat melihat hilal. Ternyata di Indonesia
tidak hanya uang yang dimanipulasi, pengamatan hilalpun dimanipulasi juga.

Sekali lagi mohon maaf.

Sugeng Rianto

(Dosen Astrofisika Universitas Brawijaya)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>