malu Sebagai Perisai Diri

Nur Hidayat

Perasaan malu selalu mendatangkan kebaikan (HR Bukhari dan Muslim)”

Kata malu sering kita dengar dengan berbagai persepsi danlebih sering berkonotasi negatif. Sebagai contoh:”Malu ah……………..” jawaban seorang gadis ketika diminta oleh MC tampil menari dalam sebuah acara atau kata:”Malu-maluin aja………….” Ketika seseorang tidak dapat menyelesaikan sesuatu yang dianggap sangat mudah bagi orang-orang disekelilingnya.

Lalu dimana hubungan malu dengan kebaikan?

Dalam aktivitas kehidupannya, manusia harus melakuka suatu kegiatan. Kegiatan keseharian bagi seorang muslim haruslah memberikan manfaat bagidirinya ataupun lingkungannya sebagai wujud keimanan.

Malu menurut Rasulullah SHALALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM adalah tindakan yang apabila dilakukan hati merasa tidak nyaman. Jadi segala perbuatan yang apabila dilihat orang lain kita malu karenanya, maka itulah malu.

Seseorang tidak boleh merasa malu atau dipermalukan karena tidak dapat naik sepeda motor misalnya, namun seseorang harus merasa malu kalau dirinya mengambil pensil temannya tanpamemberi tahu atau meminta ijin pada pemiliknya.

Seorang guru memeilik kewajiban mengajarkan pengatahuan padamuridnya agar sang murid memiliki kemampuan yang memadai untuk membantu kehidupannya kelak. Seorang guru tidak perlumalu jika muridnya takmampu menyerap semua yang diajarkan karena setiap anak memiliki kemampuan dan keterbatasn yang berbeda. Namun sebuah tindakan yang memalukan jika seorang guru membiarkan atau menyuruh muridnya untuk saling menyontek agar semuanya lulus sehingga mengangkat citra sekolahnya,.suatu kebanggaan yang semu. Peristiwa di atas nampaknya sederhana, padahal secara tidak sengaja guru tersebut telah mengajarkan pada anak didiknya untuk berbuat curang atau melanggar hukum jika ada kesempatan.

Contoh lain adalah ketika harta sudah menjadi ukuran keberhasilan seseorang. Kita sering bangga atau kagum ketika melihat si Fulan sudah memiliki mobilbaru lagi. Bahkan kita sering menghormati orang yang memakai mobil daripada sepeda. Saya secara pribadi pernah mengalami, ketika naiksepeda motor, seorang teman jarang mau ke rumah atau menyapa tapi ketika saya naik mobil ia begitu ramah? Ramah karena saya atau mobil saya?

Penggunaan kekayaan sebagai cara mengukur keberhasilan menjadikan orang sering melakukan tindakan yang memalukan misalnya korupsi. Ia akan dengan tenangnya menggunakan harta Negara, toh banyak juga yang melakukan,kenapa saya tidak? Dan ketika terkuak perbuatannya ia melarikan diri atau melakukan pembelaan bukan malu lalu bertobat. Itulah jika rasa malu telah hilang dari hati kita.

Dan ketika rasa malu itu telah hilang,masih adakah kebaikan pada dirinya?

Dalam hadiys yang lain Rasulullah SAW bersabda: “Cabang iman itu ada enam puluh lebih atau tujuh puluh lebih, yang paling utama adalah ucapan tahlil – laa ilaha illAllah – dan yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dijalan. Dan malu termasuk bagian dari iman” (HR Bukhari dan  Muslim)

Jadi…………… masihkah kita malu untuk menjadikan malu sebabagi perisai diri kita?

Malu untuk berbuat tidak baik?

Malu untuk berbuat dosa?

Malu untuk berkata-kata yang menyakiti hati saudara kita?

Malu untuk berbuat sombong?

Atau justru kita malah

malu untuk pergi berjamaah ke masjid?

Malu mengucapkan tahlil?

Malu menunjukkan keislaman kita?

Hanya hati anda yang mampu menjawabnya, semoga Allah selalu membimbing kita menuju jalan yang diridhoinya. Amiin.

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>