Zero Waste

Zero Waste adalah visi strategis dari suatu komunitas. Ini mengandaikan bahwa bahan baku dalam sistem akan didaur ulang, dan tidak akan berakhir dalam incinerator atau di tempat pembuangan sampah. Pada pandangan, gagasan bahwa saya tidak akan menghasilkan limbah apapun mungkin tampak sebagai suatu mimpi yang utopis. Namun, dalam ini adalah tujuan yang dapat dicapai, dan secara bertahap  terjadi peningkatan jumlah negara, kota, kota dan perusahaan di seluruh dunia yang bergabung dengan gerakan ini.

Pada awalnya sangat perlu untuk menyadari bahwa istilah Limbah Nol bukan berarti pengurangan produksi semua limbah ke nol  (hal ini tidak mungkin dalam suatu masyarakat yang berorientasi pada konsumsi). Istilah ini berarti penghapusan cara pembuangan  limbah dengan mendepositokan ke tempat pembuangan sampah dan incinerator. Pemilihan tujuan ini adalah penting, karena tidak ada pilihan. Kita harus melakukan apa pun yang mungkin untuk mencapai itu.

Visi zero waste memerlukan perubahan dalam cara kita berpikir dan praktek mapan. Alih-alih memecahkan masalah apa yang harus dilakukan dengan limbah yang dihasilkan, kita harus berkonsentrasi, terutama pada masalah bagaimana mengelola sumber daya alam lebih bijaksana, dan bagaimana mengurangi volume total dan bahaya limbah.

Konsepsi Zero waste adalah bentuk pengelolaan limbah ketika limbah dikelola sesuai dengan persyaratan undang-undang limbah, menurut piramida limbah. Di tempat pertama, perlu untuk mencegah penciptaan limbah, kedua untuk meminimalkan jumlah dan toksisitas, dan ketiga perlu untuk memperbaiki produk. Jika langkah ini tidak mungkin, maka daur ulang digunakan. Insinerasi dan penimbunan datang hanya pada akhir piramida ini.

Konsep zero waste mencakup berbagai langkah. Beberapa dari mereka sudah diatur dalam undang-undang. Alat-alat ekonomi dan sistem termasuk tanggung jawab produsen untuk produk mereka. Secara singkat menjelaskan, ini berarti bahwa jika sebuah produk dan kemasannya tidak dapat digunakan kembali, didaur ulang atau kompos, maka produsen harus bertanggung jawab untuk pengumpulan dan pembuangan yang aman setelah akhir masa pakai. Di negara-negara Uni Eropa, konsep ini diterapkan untuk kemasan, minyak, limbah listrik, akumulator, baterai dan single-sel baterai,  lampu neon, mobil, ban,dan obat-obatan.

Tujuan lain dari zero waste adalah pengenalan integrasi antara kebijakan dan produksi. Kata integrasi dapat diartikan sebagai bentuk produsen menyetujui untuk semua tahap dalam produksinya memperhatikan lingkungan dan kebijakan yang ada mendasarkan pada kepentingan ekonomi produsen tanpa mengabaikan pelestarian lingkungan. Sebagai contoh, pada masa lalu daun digunakan sebagai kemasan, penjual daun hanya memanen daun yang telah menunjukkan warna hijau tertentu dan tidak mengambil habis sehingga lingkungan terjaga. Saat ini ketika kemasan diganti plastik ataupun kertas maka kebjakan lingkungan harus dibuat agar kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Tahap penting lainnya adalah pengenalan secara langsung biaya polutan. Disini diartikan bahwa pembuat limbah langsung membayar terhadap limbah yang dibuangnya. Misalnya limbah padat dikemas dalm wadah yang telah ditetapkan dan ditimbang, setiap kg limbah yang dihasilkan dikenai biaya tertentu jadi bukan bulanan dengan jumlah yang tidak dibatasi. Biaya ini didasarkan pada biaya untuk operasional insinerasi (mencakup biaya langsung, biaya depresiasi alat serta tenaga kerja).

Konsep lainnya adalah memberikan insentif pada industry yang mampu mengolah limbah sehingga limbah yang dikeluargan memiliki kualitas lebih baik dari standar yang ditetapkan sehingga limbah yang ada tidakmencemari lingkungan.

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>