Meyakini dan Melaksanakan Rukun Iman adalah Bukti Keimanan seorang Muslim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puja dan puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam yang telah melimpahkan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita sehingga dapat bertemu di majelis yang penuh Baroqah ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW dan keluarganya, para sahabat, tabiin dan seluruh umatnya hingga akhir jaman. Amiin.

Adik-adik yang dirakhmati Allah SWT, dalam kita beragama, maka hal yang tidak boleh kita lupakan adalah keimanan karena iman adalah landasan seseorang untuk meyakini apa yang dianutnya. Sebagai orang yang yang beragama Islam tentunya kita memiliki keimanan, sehingga kita mengenal apa yang disebut rukun iman. Apa itu rukun iman? Dalam sebuah hadits yang cukup panjang:

Dari Umar bin KHaththab r.a, beliau berkata: “Tatkala kami sedang duduk bersama Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba muncullah di tengah-tengah kami seorang laki-laki yang amat sangat putih bajunya, amat sangat hitam rambutnya, tidak ada bekas melakukan perjalanan dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Nabi SAW dan menempelkan kedua lututnya kelutut Nabi SAW dan meletakkan kedua tangannya dipahanya sendiri…… Lalu dia berkata: Beritakan kepadaku tentang iman? Nabi bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malailkat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir baik dan buruk”. Ia berkata: “Engkau benar”………… kemudian orang tesebut pergi dan aku tinggal beberapa lama, lalu Nabi SAW bersabda: “Wahai umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya tersebut? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. Beliau bersabda: “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajari urusan dien(agama) kalian”. (Hadits Riwayat/HR Muslim).

Hadits di atas menunjukkan bahwa pelajaran tentang rukun iman disampaikan Nabi kepada para sahabat dihadapan Malaikat Jibril. Hal ini menunjukkan bahwa rukun Islam merupakan petunjuk langsung dari Allah bukan karangan Rasulullah SAW apalagi manusia yang hanya merasa dirinya hebat.

Dalam hadits tersebut juga nampak urutan yang diajarkan Rasulullah SAW yaitu dimulai dari beriman kepada Allah hingga percaya kepada takdir baik dan buruk. Apa maknanya?

Untuk menjadi umat Islam yang baik maka langkah pertama yang harus kita tanamkan dalam hati dan perbuatan kita adalah beriman kepada Allah. Iman kepada Allah adalah membenarkan semua sifat-sifat Allah SWT yang kita kenal sebagai Asmaul Husna, misal Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemurah, Maha Benar dan sebagainya. Allahlah yang menciptakan bumi seisinya dan juga kita sesuai dengan ukuran yang pasti. Sebagaimana firman Allah dalam Qur’an surat (QS) Al – Qomar: 49:

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”

Oleh sebab itu, sebagai bukti keimanan kita kepada Allah SWT maka hanya Allah lah yang layak kita sembah sebagaimana firman Allah dalam QS Al Anbiyaa’ 25: 

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”

Iman kepada Malaikat maksudnya adalah membenaran bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan, tidak pernah mendahului perintah Allah dan mereka senantiasa mengerjakan apapun yang diperintahkan Allah kepada mereka. Salah satu fungsi malaikat adalah ada yang ditugaskan untuk selalu mengiringi kita dan menjadi saksi segala apa yang kita lakukan yang akan kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah nantinya, sebagaimana firman Allah dalam QS Qaaf ayat 21:

Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia satu malaikat pengiring dan satu malaikat penyaksi”

Iman kepada kitab-kitab-Nya berarti kita harus meyakini keberadaan dan kebenaran kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan kitab Al Qur’an adalah penyempurna dan penutup dari seluruh kitab yang diturunkan kepada seluruh Nabi sebagimana firman Allah dalam Al Qur’an surat Al Maa’idah ayat 48: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu…….”

Iman kepada para Rasul Allah adalah mengimani bahwa apa yang mereka kabarkan dari Allah SWT adalah benar, Allah menguatkan mereka dengan mukjizat sebagai bukti kebenaran mereka. Mencintai Allah dan Rasul-Nya harus lebih kita utamakan dari mencintai kehidupan seperti kekayaan dan keturunan agar kita tidak menjadi orang yang fasik sebagaimana firman Allah SWT dalam QS at-Taubah 24:

katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. 

Iman kepada hari akhir yaitu mengimani adanya hari kiamat, termasuk didalamnya kehidupan setelah kematian, dikumpulkannya makhluk hidup di padang mahsyar, adanya hisab, adanya syurga dan neraka tempat pemberian pahala bagi orang-orang yang beramal shalih dan siksa bagi orang-orang yang berdosa. Pahala bagi orang yang beriman adalah syurga sebagaimana firman Allah dalam QS As Sajdah 19:

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, maka bagi mereka syurga-syurga tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang telah mereka kerjakan. 

Sedangkan balasan bagi mereka yang ingkar adalah neraka seperti termaktub dalam ayat berikutnya (QS As Sajdah 20):  

Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir), maka tempat mereka adalah neraka. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan (lagi) ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya” 

Iman kepada takdir berarti mengakui dan membenarkan semua yang terjadi dan yang akan terjadi yang semuanya semata-mata kehendak Allah SWT semata sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Ash-Shaaffat 96:

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”

Dan siapa saja yang meyakini dan membenarkan semua urusan tersebut di atas (rukun iman) dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan serta tidak  terbersit sedikitpun keraguan dihatinya maka dia adalah mukmin sejati, baik itu diperoleh dari bukti-bukti yang pasti ataupun dari keyakinan yang kuat.

Demikian yang dapat kami sampaikan, mohon maaf atas segala khilaf yang ada karena kemampuan kami yang terbatas. Subhanaka Allahumma wabihamdika, Ashadu anla ala illa ha illa anta astaqfiruka waatubu ilaika. –  Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu

Wassalmualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

rukun Iman dengan huruf ayat untuk surah dari Al Qur’an

 

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>