Bioetanol dari mikroalgae

Bioetanol kini menjadi energy alternative yang dilirk setelah ketersediaan minyak bumi semakin menipis. Bioethanol yang diproduksi juga mulai dipikirkan tentang bahan baku yang digunakan agar tidak mengganggu ketersediaan pangan. Berdasarkan bahan bakunya bioethanol dikelompokkan dalam beberapa generasi. Generasi pertama adalah penggunaan sumber-sumber pangan seperti jagung, gandum, tebu dan sebagainya. Generasi pertama ini menimbulkan perdebatan terkait dengan persediaan pangan dan ketahanan pangan disamping orang masih memandang kecukupan ketersediaan minyak bumi. Generasi kedua adalah mulai digunakannya limbah berlignoselulosa. Keterbatasan generasi ini adalah sulitnya merombak lignoselulosa menjadi gula yang siap difermentasi. Harga enzim yang mahal menjadi kendala. Generasi ketiga adalah menggunakan microalgae. Penggunaan microalgae dianggap tidak berkompetisi dengan pangan. Mikroalgae adalah algae mikroskopik atau mikroorganisme uniselular fotosintetik yang umum ditemukan di lingkungan beraiaran baik laut ataupun air tawar. Keunggulan microalgae dibandingkan dengan tanaman adalah rendahnya kadar lignin pada microalgae. Kandungan karbohidrat pada microalgae bervariasi dari 10 sampai dengan 47 %. Berdasar berat kering.
Tahap yang cukup penting dalam produksi bioethanol dari microalgae adalah “pretreatment” yaitu memecah karbohidrat menjadi gula yang akan dfermentasi menjadi etanol. Metode yang sering digunakan dalam pretreatment adalah secara kimia, enzimatis ataupun mekanis. Cara kimia misalnya hidrolisis dengan asam, basa, ammonia atau CO2. Cara enzimatis umumnya menggunakan enzim amilase dan amiloglukosidase dengan suhu sekitar 70 – 900C. cara mekanis misalnya dengan High pressure, homogenization, ultrasonic, ataupun kombinasi treatment.
Proses fermentasi merupakan proses inti dalam produksi bioethanol. Mikroorganisme yang sering digunakan adalah khamir dari spesies Saccharomyces cerevisiae. Selain itu beberapa khamir yang juga digunakan adalah Brettanomyces custersainus, Pichia stipitis, dan Klebsiella oxytoca. Bakteri juga dapat digunakan untuk produksi bioethanol diantaranya adalah Escherichia coli, Klebsiella oxytoca dan Zymomonas mobilis.
Tahap berikutnya adalah pemurnian etanol dari air sehingga mencapai konsentrasi 99,99%.

Tags: , , , , , , ,

3 Responses to Bioetanol dari mikroalgae

  1. Setelah membaca tulisan bapak ada sedikit pertanyaan tentang bioetanol ini.
    Ditempat saya tulungagung pengembangan bio ethanol menggunakan jagung (boros memakan bahan baku yang banyak untuk mendapatkan ethanol 1 liter).
    Jika menggunakan microalgae berapa jumlah yang kita butuhkan?
    menurut bapak dalam hal budi daya bisakah dikembangkan dengan mudah atau membutuhkan perawatan khusus dalam pengembangan?
    secara kualitas apakah dapat setara atau seimbang dengan bioethanol berbahan bakar nabati (jagung misalnya)
    Sungguh artikel yang sangat menarik untuk disimak.

  2. nurhidayat says:

    sebenarnya mudah jagung tetapi karena produksi mikroolga cepat maka lebh efisien. perlu alat dan pengetahuan karena organisme yg sangat kecil

  3. saya penasaran dengan cara high pressure pak.
    itu berati kita memberi tekanan yang sangat tinggi sedangkan diatas kurang lengkap nama alatnya. Apakah bisa memakai alat rumahan atau memang wajib membeli import langsung dari luar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*