SEPULUH kejahatan didunia ini pada hakekatnya berakar pada tiga kejahatan yang ditimbulkan oleh fikiran, yalah: Lobha atau keserahan, Dosa atau dendam kebencian dan Moha atau kepalsuan.
Baik Lobha, Dosa maupun Moha, laksana api abadi yang membakar, menghanguskan pikiran, hati, semangat dan jiwa manusia. Manakala kita membiarkan api itu menyala dan membara, membakar dan menghangus, maka akan rusak binasalah pikiran dan jiwa, akan hanguslah sumber rasa dalam jasad, akan layulah kesatuan batin yang berhubungan dengan jiwatma. Manusia Lobha, akan menyerupai harimau yang paling buas di dunia. Manusia Dosa, bagai raksana yang mengumbar keangkara-murkaan. Manusia Moha tak ubah seperti ulat berbisa yang berkulit cantik, rubah yang berkulit
domba.
Ketiga kejahatan itu akan menanggalkan manusia dari sifat kemanusiawiannya.
Sesungguhnya amatlah besar penderitaan yang harus dikenyam apabila pikiran menyambut, tumbuh dan menyuburkan ketiga benih kejahatan itu. Dia bagaikan benalu yang akan menghisap darah dan sari hidup manusia.
Mengandung Lobha, Dosa dan Moha benar2 suatu derita sengsara. Lobha akan pangkat dan kedudukan, harta dan kekayaan, akan mengobarkan nafsu pikiran jahat, menyiksa batin sendiri sebelum apa yang diinginkan itu tercapai. Dosa atau mendendam kebencian, akan lebih dulu menyiksa pikiran diri sendiri. Lebih menderita daripada orang yang dibenci.
Sebelum melaksanakan dendam kebencian terhadap orang yang dibenci, kita sudah dilanda derita oleh dendam kebencian itu sendiri. Mengandung rasa Moha, hanya menipu pikiran dan batin sendiri, mengingkari suara hati nurani, menghianati jiwa peribadi sendiri. Tiada kehinaan yang lebih hina daripada menghina diri sendiri, tiada hianat yang lebih hianat daripada menghianati diri sendiri.
Ketiga api jahat itu harus disiram, dipadamkan dan dilenyapkan dengan air yang jernih, air yang murni dari yang paling murni, air yang halus dari yang paling halus. Air yang sanggup menembus serabut yang paling halus dari pancarasa jasad manusia. Air atau u d a k a itu harus mempunyai lima buah saluran. Alat atau senjata yang memiliki lima ujung mata disebut bajra. Demikianlah maka terciptalah sebuah alat yang dinamakan B a j r o d a k a atau air halus yang mempunyai lima saluran tajam yang sanggup menembus, mencuci dan membersihkan kehidupan rasa jiwatma.
Tetapi bajrodaka bukanlah air biasa melainkan air yang gaib, air yang memiliki dua sifat, air biasa dan air amrta. Air yang tiada berwujut, tiada berwarna, tiada pula bersifat. Wujut, warna dan sifatnya terbentuk oleh yang menerima alirannya.
Apabila yang menerima masih penuh dengan lumpur2 lobha, dosa dan moha, maka air itu akan berbisa. Air neraka yang akan menumpas jiwa dan raga. Tetapi apabila yang menerima sudah sungguh2 menghayati sinamaya atau ketenteraman, maka air itu akan merupakan air amrta, air kehidupan.
(Manggala Majapahit – Gajah Kencana Jilid 38)