Minyak Biji Seledri

March 23, 2014 by nurhidayat

Seledri selama ini banyak dimanfaatkan untuk berbagai penyakit. umumnya yang dimanfaatkan adalah daunnya atau tanaman seledri. kita kurang begitu mengenal tentang biji seledri.
Biji seledri dapat diekstrak dan diambil minyaknya. minya biji seledri banyak mengandung turunan dari phthalide seperti sedanolide, sedanonic anhydride, 3-n-butyl pthlide dan lain-lain.
biji seledri dimanfaatkan sebagai bahan herbal, suplemen diet dan ramuan antirematik.
Senyawa nitrogen dalam biji minyak biji seledri memiliki pengaruh baik bagi sistem syaraf pusat, asma, encok, dan anti peradangan
sumber: Antioxidant, cyclooxygenase and topoisomerase inhibitory compounds from Apium graveolens Linn. seeds
Momin, R A; Nair, M G. Phytomedicine9.4 (May 2002): 312-8.

Antara Beras dan Terigu

March 10, 2014 by nurhidayat

Bangsa Indonesia pada dasarnyaadalah bangsa yang mengkonsumsi beras bukan terigu. namun demikian, fakta menunjukkan dalam dua dekade ini terigu menjadi bagian menu yang penting dan sering tak terhindarkan. Kelas menengah ke atas mulai sering mengkonsumsi roti, sementara kelas menengah ke bawah dijejali dengan mie instant. inilah yang menyebabkan peningkatan konsumsi terigu meningkat sebesar 5 % pertahun sejak 2002.

Tingginya laju konsumsi terigu ini dipicu oleh gagalnya swa sembada beras dan diikuti dengan impor beras dari Vietnam.

Kita tidak mampu menghasilkan gandum karena iklim yang tidak sesuai lalu kenapa tubuh kita mencona menyesuaikannya?

kita gagal swa sembada beras tanpa tahu apa penyebabnya. dari tingkat menteri hingga peneliti tak tahu apa yang harus diperbuat untuk petani.

haruskah kita akan jadi tumpahan produk asing?

lalu apa yang akan kita lakukan?

akankah kita lebih membanggakan olahan terigu?

banyak produk lokal yang sebenarnya cocok untuk kehidupan kita, namun otak kita telah ditumpuki dengan atribut-atribut hebatnya produk impor dan mungkin kelak isi otak kita adalah impor.

mungkinkah kita hanya mampu mengekspor asap yang terbawa angin?

didakam hati dan otak kitalah semua jawaban itu ada

 

Kolam Mikro-alga

February 5, 2014 by nurhidayat

Mikro-alga memiliki potensi yang bagus sebagai biomass untuk dijadikan biodiesel. Salah satu contoh mikro-alga yang dapat dibudidayakan adalah Botryococcus braunii yakni mikro-alga yang kaya hidrokarbon. Komponen utama yang dihasilkan oleh B. braunii strain BOT-22 adalah botryococcene (C34H58). Namun demikian, produksi biomass ini tidaklah mudah, diperlukan penangan khusus agar hasilnya dapat optimum. Hal ini disebabkan B. braunii memiliki laju pertumbuhan yang lambat bahkan kadangkala perlu ditambahkan glukosa dalam konsentrasi rendah sebagai sumber karbon pada kultur. Penggunaan limbah industry yang masih kaya nutrisi mungkin dapat menjadi salah satu cara meningkatkan laju pertumbuhan mikro-alga ini sekaligus mengurangi pencemaran akibat limbah cair. Salah satu limbah cair yang dapat digunakan adalah limbah cair tahu.
Limbah cair tahu yang akan digunakan untuk penumbuhan mikro-alga maksimum sampai 10 % dan ditambahkan pada medium AF-6 dan disaring menggunakan kertas saring No 2. pH diatur menjadi 6,6 dengan NaOH 10 N kemudian disterilkan pada 1210C, 2 atm, 30 menit. Strain BOT-22 ditumbuhkan dalam Erlenmeyer 300 mL yang mengandung medium 200 mL. Suhu yang digunakan 250C dengan cahaya white fluorescent (70 mol photon m-2 s-1) dan diaerasi dengan udara yang mengandung CO2 1% melalui filter polytetrafluoroethylene (0,2 m).
Pertumbuhan mikro-alga akan meningkat jika limbah cair tahu ditambahkan pada medium buatan. Jumlah biomass dibandingkan tanpa limbah cair tahu meningkat 1,66 – 2,12 kali dengan menggunakan limbah cair tahu 1 %, 2,17 – 2,19 kali dengan penambahan limbah cair tahu 2 %, 1,36 – 1,61 kali dalam limbah cair tahu 5 %. Fase stasioner terjadi pada hari ke 40. Pada konsentrasi limbah cair tahu 10 % semua alga mengalami perubahan warna dari hijau menjadi putih dan setelah 1 minggu sudah tidak menunjukkan pertumbuhan. Hal ini menunjukkan bahwa limbah cair tahu selain mengandung factor pendukung juga mengandung senyawa penghambat bagi BOT-22.
Penmbahan limbah cair tahu 1 – 2 % pada media mikro-alga akan memacu pertumbuhan dan produksi hidrokarbon oleh B. braunii BOT-22. Strain ini juga toleran terhadap antibiotika ampicillin 50 – 200 mg L-1 dan cefotaxime 50 – 250 mg L-1 yang sudah mampu mematikan bakteri.

menjadi penelaah buku ajar di Universitas Terbuka

November 18, 2013 by nurhidayat

Pada hari kamis 14 November hingga Sabtu 6 November 2013 pak Nur Hidayat mendapat kepercayaan dari Universitas Terbuka Jakarta untuk menelaah buku ajar yang akan diterbitkan. buku ajar yang ditelaah adalah Sanitasi dalam Industri Pengolahan Pangan karya Prof Betty S. Laksmi Jenie dari IPB.
selama penelaahan telah dilakukan diskusi dengan penulis.
pada hari pertama, kami beikan ke beliau buku-buku baru untuk digunakan memperkaya naskah yang telah dibuat
naskah terdiri dari 6 modul yang dilengkapi dengan soal-soal untuk evaluasi pembelajaran

Selected Starter Cultures (SSC)

October 29, 2013 by nurhidayat

Selected streter culture (SSC) banyak digunakan dalam produksi pangan hasil fermentasi terutama untuk produksi wine, olahan susu, sosis, vinegar dan fermentasi sayuran lainnya. Keuntungan penggunaan SSC terkait dengan pengendalian proses, sanitasi dan mutu produk.

Desain SSC apda dasarnya mencakup tiga tahap yaitu:

  1. Start-up pada kondisi laboratorium
  2. Scale-up dalam system tanki
  3. Produksi skala pabrik

Sebagai contoh pada proses produksi vinegar untuk memperbaiki proses seringkali tahap 1 ditambah dengan etanol 3 % dan tahap 2 dengan asam asetat 3 %. Pada tahap 1 mula pertama digunakan kultur cair 5 mL dan dipindah ke volume yang lebih besar dengan meningkatkan kandungan bahan padat etrlarut (dari 7 hingga 200Bx). Tahap 1 dihentikan pada volume SSC 70 L (pH 3,37; asam asetat 5,62%; etanol 1,22%) dan ini membutuhkan waktu 30 hari. SSC tahap 1 ini digunakan untuk menginokulasi operasi scale-up (tahap 2). Tahap 2 dilakukan selama 121 hari dengan 7 kali pemindahan/peningkatan skala sehingga volume akhir mencapai 628 L (pH 3,4; asam asetat 5,0%, etanol 2,0 %). Tahap 3 dilakukan dalam barrel-barrel kayu dengan mencampurkan hasil tahap 2 dengan medium segar. Proses tahap 3 berlangsung selama 28 hari sehingga diperoleh asam asetat 6 % dan alcohol terus turun. Tahap 3 diakhir dengan evaporasi untuk meningkatkan padata terlarut.

Pustaka:

Maria Gullo, Luciana De Vero, and Paolo Giudici. 2009. Succession of Selected Strains of Acetobacter pasteurianus and Other Acetic Acid Bacteria in Traditional Balsamic Vinegar. Appl. Environ. Microbiol 75: 2585 – 2589.

Fungsi Nutrisi Bagi Mikroorganisme

October 6, 2013 by nurhidayat

Setiap unsur nutrisi mempunyai peran tersendiri dalam fisiologi sel. Unsur tersebut diberikan ke dalam medium sebagai kation garam anorganik yang jumlahnya berbeda-beda tergantung pada keperluannya. Beberapa golongan mikroba misalnya diatomae dan alga tertentu memerlukan silika (Si) yang biasanya diberikan dalam bentuk silikat untuk menyusun dinding sel. Fungsi dan kebutuhan natrium (Na) untuk beberapa jasad belum diketahui jumlahnya. Natrium dalam kadar yang agak tinggi diperlukan oleh bakteri tertentu yang hidup di laut, algae hijau biru, dan bakteri fotosintetik. Natrium tersebut tidak dapat digantikan oleh kation monovalen yang lain.

Jasad hidup dapat menggunakan makanannya dalam bentuk padat maupun cair (larutan). Jasad yang dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat tergolong tipe holozoik, sedangkan yang menggunakan makanan dalam bentuk cair tergolong tipe holofitik. Jasad holofitik dapat pula menggunakan makanan dalam bentuk padat, tetapi makanan tersebut harus dicernakan lebih dulu di luar sel dengan pertolongan enzim ekstraseluler. Pencernaan di luar sel ini dikenal sebagai extracorporeal digestion.

Bahan makanan yang digunakan oleh jasad hidup dapat berfungsi sebagai sumber energi, bahan pembangun sel, dan sebagai aseptor atau donor elektron. Dalam garis besarnya bahan makanan dibagi menjadi tujuh golongan yaitu air, sumber energi, sumber karbon, sumber aseptor elektron, sumber mineral, faktor tumbuh, dan sumber nitrogen.

Air

Air merupakan komponen utama sel mikroba dan medium. Funsi air adalah sebagai sumber oksigen untuk bahan organik sel pada respirasi. Selain itu air berfungsi sebagai pelarut dan alat pengangkut dalam metabolisme.

Sumber energi

Ada beberapa sumber energi untuk mikroba yaitu senyawa organik atau anorganik yang dapat dioksidasi dan cahaya terutama cahaya matahari.

Sumber karbon

Sumber karbon untuk mikroba dapat berbentuk senyawa organik maupun anorganik. Senyawa organik meliputi karbohidrat, lemak, protein, asam amino, asam organik, garam asam organik, polialkohol, dan sebagainya. Senyawa anorganik misalnya karbonat dan gas CO2 yang merupakan sumber karbon utama terutama untuk tumbuhan tingkat tinggi.

Sumber aseptor elektron

Proses oksidasi biologi merupakan proses pengambilan dan pemindahan elektron dari substrat. Karena elektron dalam sel tidak berada dalam bentuk bebas, maka harus ada suatu zat yang dapat menangkap elektron tersebut. Penangkap elektron ini disebut aseptor elektron. Aseptor elektron ialah agensia pengoksidasi. Pada mikrobia yang dapat berfungsi sebagai aseptor elektron ialah O2, senyawa organik, NO3-, NO2-, N2O, SO4=, CO2, dan Fe3+.

 Sumber mineral

Mineral merupakan bagian dari sel. Unsur penyusun utama sel ialah C, O, N, H, dan P. unsur mineral lainnya yang diperlukan sel ialah K, Ca, Mg, Na, S, Cl. Unsur mineral yang digunakan dalam jumlah sangat sedikit ialah Fe, Mn, Co, Cu, Bo, Zn, Mo, Al, Ni, Va, Sc, Si, Tu, dan sebagainya yang tidak diperlukan jasad. Unsur yang digunakan dalam jumlah besar disebut unsur makro, dalam jumlah sedang unsur oligo, dan dalam jumlah sangat sedikit unsur mikro. Unsur mikro sering terdapat sebagai ikutan (impurities) pada garam unsur makro, dan dapat masuk ke dalam medium lewat kontaminasi gelas tempatnya atau lewat partikel debu.

Selain berfungsi sebagai penyusun sel, unsur mineral juga berfungsi untuk mengatur tekanan osmose, kadar ion H+ (kemasaman, pH), dan potensial oksidasi-reduksi (redox potential) medium.

Faktor tumbuh

Faktor tumbuh ialah senyawa organik yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan (sebagai prekursor, atau penyusun bahan sel) dan senyawa ini tidak dapat disintesis dari sumber karbon yang sederhana. Faktor tumbuh sering juga disebut zat tumbuh dan hanya diperlukan dalam jumlah sangat sedikit.

Berdasarkan struktur dan fungsinya dalam metabolisme, faktor tumbuh digolongkan menjadi asam amino, sebagai penyusun protein; base purin dan pirimidin, sebagai penyusun asam nukleat; dan vitamin sebagai gugus prostetis atau bagian aktif dari enzim.

Sumber nitrogen

Mikroba dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk amonium, nitrat, asam amino, protein, dan sebagainya. Jenis senyawa nitrogen yang digunakan tergantung pada jenis jasadnya. Beberapa mikroba dapat menggunakan nitrogen dalam bentuk gas N2 (zat lemas) udara. Mikroba ini disebut mikrobia penambat nitrogen.

Manajemen Laboratorium

September 8, 2013 by nurhidayat

pada hari Sabtu 7 September 2013 aku mendapat kesempatan untuk memberikan materi Manajemen Laboratorium pada SEMINAR PENINGKATAN MANAJEMEN LABORATORIUM di Universitas Katolik Widyakarya Malang.

Acara dihadiri oleh Rektor, Dekan, Ketua Jurusan dan ketua Laboratorium.

dalam kesempatan itu saya menyajikan bagaimana mengelola dengan baik sebuah laboratorium.

laboratorium harus mendokumentasikan semua yang ada agar mudah dilakukan pembenahan.

selain sistem dokumen juga harus diperhatikan adanya K3 dan layanan prima

laboratorium adalah tempat melakukan aktivitas penelitian sehingga harus menjadi tempat yang nyaman agar penelitian dapat berlangsung dengan baik. sesuatu yang aneh jika seorang dosen tidak pernah atau jarang melihat laboratorium tempat ia bekerja

 

 

Penelitian dan Pengabdian jamur tiram di Pakis

August 26, 2013 by nurhidayat

Pada hari Sabtu 24 Agustus 2013 Tim penelitian dan pengabdian dari Laboratorium Bioindustri berangkat ke Pakis untuk memulai pelaksanaan kegiataan. kegiatan dilaksankan di UKM milik bapak Sumanto yang menghasilkan jamur tiram 4-5 kuintal per hari dengan limbah mencapai 1 – 2 truk per minggu. limbah tersebut selama ini hanya dibuang di belakang rumah di daerah Poncokusumo sebagai tanah urug.
anggota tim yang berangkat adalah Nur Hidayat, Bu Ella dan Bu Beuty serta 4 orang mahasiswa yang terlibat. selama di lokasi tim juga didampingi ibu Sri sumarsih yang selama ini merupakan pelatih dan penulis budidaya jamur.
pakis60

BAHAN TAMBAHAN PANGAN

August 14, 2013 by nurhidayat

berikut beberapa hal dari Permenkes RI No 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan
Bahan Tambahan Pangan yang selanjutnya disingkat BTP adalah bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk rnempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan/atau tidak diperldkukan sebagai bahan baku pangan
BTP hanya boleh digunakan tidak melebihi batas maksimum penggunaan dalam kategori pangan
Pangan yang mengandung BTP atau sediaan BTP harus memenuhi persyaratan label pangan sesuai ketentuan perundang-undangan

download

Mangga

July 22, 2013 by nurhidayat

Mangga (Mangifera indica) merupakan buah yang banyak digemari karena rasanya yang manis dan segar. Mangga sering dikonsumsi baik dalam keadaan segar atupun olahan. Konsumsi buah dan sayuran alam jumlah tinggi seringkali dikaitkan dengan makin berkurangnya resiko terkena penyakit degenerative. Hal ini seringkali dikaitkan dengan adanya berbagai senyawa antioksidan di dalamnya. Namun demikian, buah ini tidak memiliki umur simpan yang lama dan mudah mengalami pembusukan ketika disimpan pada suhu kamar. Perlakuan dengan air panas setelah pemanenan  juga mengakibatkan percepatan proses pemasakan.

Klasifikasi mangga adalah sebagai berikut:

Kingdom              : Plantae

Class                      : Mangoliopsida

Phylum                 : Mangoliophyta

Order                    : Sapindales

Family                  : Anacardiaceae

Genus                   : Mangifera

Species                 : indica

Beberapa spesies mangga adalah: Mangifera altissima, Mangifera applanata Mangifera caesia, Mangifera camptosperma, Mangifera casturi, Mangifera decandra, Mangifera foetida, Mangifera griffithii, Mangifera indica, Mangifera kemanga, Mangifera laurina, Mangifera longipes, Mangifera macrocarpa, Mangifera mekongensis, Mangifera odorata, Mangifera pajang, Mangifera persiciformis, Mangifera quadrifida, Mangifera siamensis, Mangifera similis, Mangifera swintonioides Mangifera sylvactia, Mangifera torquenda, dan Mangifera zeylanica.

Nama daerah untuk mangga adalah Jawa: Pelem, Poh; Sansekerta: Ambrah, Madhuulii, Madhuula, Madhuulaka; Inggris: Mango; Hindi: Aam; Perancis: Mangot, Mangue, Manguier; Portugis: Manga, Manguiera; Belanda: Manja; Tamil: Ambiram, Mambazham, Mambalam, Mangai; Punjabi: Amb, Wawashi; Gujarat: Ambo, Keri; Kashmir: Amb dan sebagainya.

Pengolahan mangga baik skala besar maupun kecil dan juga konsumsi buah segar acapkali menghasilkan limbah yang cukup besar. Sebagai contoh, pengolahan mangga menjadi juice, nectar, puree, leather atupun jam akan menghasilkan limbah 35 – 65 % yang terdiri dari kulit, biji, dan bagian buah yang tidak terolah. Limbah mangga ini sebenarnya masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan ataupun produk pangan fungsional dan nutraceutical.